Kisah Nabi Muhammad SAW

Mei 18, 2010

Muhammad (bahasa Arab: محمد), juga dikenal sebagai Mohammad, Mohammed, dan kadang-kadang oleh orientalis Mahomet, Mahomed) adalah pembawa ajaran Islam,  adalah nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional Muslim (dalam bahasa Arab disebut sirah), nabi Muhammad lahir sekitar tahun 570, diperkirakan 20 April 570 di Mekkah (atau “Makkah”) dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini). “Muhammad” dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji”.  Ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad S.A.W adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya.  Nabi Muhammad bergelar Rasulullah (رسول الله),  sallallaahu alayhi wasallam (صلى الله عليه و سلم), yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya”; sering disingkat “S.A.W”  setelah namanya. Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama “Ahmad” (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.

Sungguh Nabi Muhammad itu contoh yang utama bagi seluruh umat manusia yang hidup di saat ini, diseluruh penjuru bumi ini. Seorang manusia pilihan yang mulia yang dapat menghantar setiap umat manusia ke pintu surga jika manusia tersebut mau dan tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Betapa besar jiwanya ketika pada masa-masa kenabiannya banyak tantangan dan rintangan yang harus dilaluinya. Demi keselamatan umat manusia nabi Muhammad serta orang-orang yang beriman dengannya sudi menerima dan memikul segala macam siksaan serta hinaan. Bahkan pernah nabi Muhammad dilempari oleh orang-orang kafir yang sangat membencinya, namun nabi Muhammad tetap bersabar, tak membalasnya, justru mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. 33:40)

Rasulullah Saw bersabda :
‘Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama: Aku Muhammad, Aku Ahmad , Aku yang penghapus karena aku, Allah menghapuskan kekafiran, Aku pengumpul yang dikumpulkan manusia dibawah kekuasaanku dan aku pengiring yang tiada kemudianku seorang Nabipun.’
(Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab: Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul- Adab, Bab: Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma in-Nabi, Al- Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab: Asma-un-Nabi.)

“Hubunganku dengan kenabian sebelumku seperti layaknya pembangunan suatu istana yang terindah yang pernah dibangun. Semuanya telah lengkap kecuali satu tempat untuk satu batu bata. Aku mengisi tempat tersebut dan sekarang sempurnalah istana itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Aku diutus oleh Allah untuk menyebarkan wahyu-Nya kepada seluruh dunia. Dan garis kenabian berakhir pada ku.” (Muslim, Tirmidzhi, Ibnu Majah)

Iklan

Pengetahuan dalam Islam.

Mei 30, 2010

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’)

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )


Pentingnya Niat (Nawaitu)

Mei 30, 2010

Niat ini dapat memberi perbedaan besar atas suatu jenis perbuatan yang sama yang dilakukan oleh masing-masing manusia. Perhatikan hadist berikut ini:

Hadis riwayat Umar bin Khathab ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya pekerjaan itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang telah ia niatkan. Barang siapa yang tujuan hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang tujuan hijrahnya adalah untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang akan ia nikahi, maka hijrahnya itu kepada apa yang kehendaki.

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1107

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 3530

Untuk setiap niatan berbuat buruk, maka dosa atasnya belum akan dicatat hingga perbuatan buruk tersebut benar-benar terjadi, sedangkan untuk setiap niatan baik yang terbersit, timbul di hati manusia maka hal itu sudah dicatat dan diperhitungkan, meski belum tentu niatan baik tersebut benar-benar akan dilakukan.

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Dari Rasulullah saw. tentang apa yang diriwayatkan dari Allah Taala bahwa Allah berfirman: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan. Kemudian beliau (Rasulullah) menerangkan: Barang siapa yang berniat melakukan kebaikan, tetapi tidak jadi mengerjakannya, maka Allah mencatat niat itu sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan baik dan mengerjakannya, maka Allah mencatat di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan yang sangat banyak. Kalau ia berniat melakukan perbuatan jelek, tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat hal itu sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia meniatkan perbuatan jelek itu, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kejelekan.

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=76

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 187


Mengapa Allah bersumpah terhadap mahluk ciptaan-Nya?

Mei 22, 2010

Mengapa Allah bersumpah terhadap mahluk ciptaan-Nya, seperti demi matahari, demi waktu, dll? Pertanyaan semacam ini sering terlontar. Ya, perlu dipahami, siapa sajakah penghuni alam semesta ini, kecuali Allah, Sang Pencipta, dengan mahluk ciptaan-Nya, tidak ada yang lain lagi. Jadi wajar jika Allah bersumpah demi mahluk ciptaan-Nya. Hal ini sebenarnya juga untuk menunjukkan bahwa Allah dapat bersumpah demi apa saja, yang  manusia anggap hebat dan mungkin menjadi tuhannya, seperti matahari misalnya dll, agar manusia itu sadar bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah, bahkan yang manusia anggap sebagai hebat dan berkuasa itu sebenarnya tak lain hanyalah salah satu mahluk ciptaan Allah saja.


Siapakah Allah?

Mei 22, 2010

Allah adalah satu-satunya tuhan. Tuhan-nya seluruh manusia berserta seluruh mahluk alam semesta, mulai sejak manusia pertama hingga manusia terakhir nanti. Tuhan sendirilah yang menghendaki diri-Nya dipanggil sebagai Allah.


Apa manfaat sholat?

Mei 18, 2010

Ternyata sholat terbukti secara medis memberi manfaat yang besar bagi kesehatan dan bentuk tubuh.


Forum untuk mualaf

Mei 18, 2010

http://www.mualaf.com/forum/index.php


Benarkah Islam menganjurkan poligami?

Mei 18, 2010

Bukan, justru Islam adalah satu-satunya agama yang secara tegas menganjurkan monogami.

Perhatikan ayat-ayat qur’an dan hadist berikut ini:

QS. 4 An Nisaa

Ayat 3


wa-in khiftum allaa tuqsithuu fii alyataamaa fainkihuu maa thaaba lakum mina alnnisaa-i matsnaa watsulaatsa warubaa‘a fa-in khiftum allaa ta’diluu fawaahidatan aw maa malakat aymaanukum dzaalika adnaa allaa ta’uuluu

3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Ayat 129


walan tastathii’uu an ta’diluu bayna alnnisaa-i walaw harashtum falaa tamiiluu kulla almayli fatadzaruuhaa kaalmu’allaqati wa-in tushlihuu watattaquu fa-inna allaaha kaana ghafuuran rahiimaan

129. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari kedua ayat yang berasal dari satu surah yang sama, yakni QS. An Nisaa, Allah telah memberitahu dan memperingatkan, bahwa manusia tidak akan dapat berbuat adil (sekalipun sangat ingin dan berkehendak untuk dapat berbuat adil), maka takutlah untuk melakukan poligami, untuk menghindari perbuatan aniaya terhadap manusia lain, karena pemberian maafnya tak bisa hanya dimintakan kepada Allah, melainkan juga harus  atas keridhoaan  maaf manusia lain yang telah dianiaya tersebut.

Jika kita mencerna kedua ayat tersebut, jelas pengertiannya, bahwa sang suami wajib memperoleh ijin dari istrinya sebelum-sebelumnya untuk melakukan poligami.

dan mengapa hadist ini selalu diabaikan, padahal ini kan sunah nabi juga, dan hadis sahih.

Hadis riwayat Miswar bin Makhramah ra.:
Bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dari atas mimbar: Sesungguhnya keluarga Bani Hisyam bin Mughirah meminta restu kalau mereka akan menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abu Thalib. Tentu saja aku tidak merestui, aku tidak merestui, sekali lagi aku tidak merestui kecuali jika Ali bin Abu Thalib berkenan menceraikan putriku terlebih dahulu kemudian menikahi putri mereka tersebut. Karena putriku adalah bagian dari diriku, apa yang menggangguku akan mengganggunya dan apa yang menyakitkan aku akan menyakitkan dirinya.

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4482 atau 1418
http://hadith.al-islam.com/bayan/displa … nd&ID=1418

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru:

“Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.”
(Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Syeh Muh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman. (Tafsir al-Manar, 4/287).

Nabi SAW bersabda :
“Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain.”
(Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926).

“Barangsiapa yang mempunyai dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya dibandingkan dengan yang lain, maka pada hari Kiamat akan datang dalam keadaan salah satu pundaknya lumpuh miring sebelah.”
(Bulughul maram , Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).